Tetap Menjadi yang Paling Berarti, Meski Tak Lagi Seiring
12 Mei 2022. Tanggal itu sempat menjadi hari yang paling sering aku ingat. Waktu itu kami masih sama-sama berproses, dua kepala yang mencoba saling mengerti. Aku yang lahir di penghujung Mei 2003, dan dia di akhir Februari 2004. Sekarang, saat kami berdua sudah berusia 22 tahun, jalan kami memang sudah berbeda. Tapi tulisan ini adalah caraku merangkum semua yang pernah terjadi di antara kita, sebagai sebuah kenangan yang utuh.
Mundur ke tiga tahun sebelum semuanya dimulai, masa-masa SMA itu sebenarnya berjalan biasa-biasa saja buatku, sampai aku menyadari kehadirannya di kelas yang sama. Impresi pertamaku padanya sederhana: dia wanita yang menarik dan cantik. Namun, pesonanya yang sesungguhnya baru terlihat saat ia mulai bersuara. Aku selalu tertarik melihatnya berdiskusi, menyampaikan opini, dan dengan anggun berpegang teguh pada pendiriannya. Setiap kali ia mengajakku bertukar pikiran, diam-diam aku mendengarkan dengan saksama. Mendengar suaranya, entah sejak kapan, menjadi salah satu hobi favoritku.
Hingga akhirnya, hari perpisahan sekolah tiba. Sebagai perwakilan panitia, aku sibuk mengurus acara. Di saat teman-teman lain asyik mengabadikan momen, aku lebih memilih berdiam diri. Namun, tiba-tiba ia menghampiriku dan mengajakku berfoto bersama. Itu adalah bingkai pertama yang hanya berisi aku dan dia, tanpa orang lain. Ada perasaan salah tingkah sekaligus bahagia yang luar biasa meletup di dada. Dulu, aku pikir momen seperti itu mustahil terjadi, tapi ia dengan mudahnya mematahkan anggapan tersebut.
Setelah sempat berjarak pasca lulus, waktu punya cara kerjanya sendiri. 12 Mei 2022, sebuah pesan darinya mendadak masuk—sebuah pertanyaan sederhana tentang kendala kartu seluler yang berujung pada obrolan panjang hingga larut. Di tengah percakapan itu, aku mengambil pertaruhan terbesar dalam diriku: mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam. Ternyata, semesta berpihak padaku. Ia merasakan hal yang sama. Hari itu, kami resmi memulai langkah bersama.
Namun, cinta jarang sekali berjalan di jalan yang lurus. 17 September 2022 menjadi awal dari ujian yang sesungguhnya. Aku harus berangkat ke Purwokerto untuk menempuh pendidikan, sementara ia tetap di sana. LDR ternyata jauh lebih berat dari yang aku bayangkan. Rasa sepi di kota orang, kecemburuan yang tak beralasan, hingga kesalahpahaman yang meninggalkan luka dalam, mulai mewarnai hari-hari kami. Kami sempat melewati masa-masa sulit, termasuk saat harus saling diam selama dua bulan di awal tahun 2025, meski akhirnya kami memilih untuk berbaikan kembali.
Titik balik hidupku terjadi pada Mei 2025. Aku mengambil keputusan besar untuk berhenti kuliah dan memilih jalur lain: bekerja di Jepang. Bulan September 2025, aku mulai masuk LPK. Di sana, disiplin adalah segalanya. Penggunaan ponsel dibatasi, dan komunikasi kami yang sudah rapuh pun semakin berjarak. Perbedaan cara kami menyelesaikan masalah menjadi jurang yang kian lebar; aku yang selalu ingin bicara untuk mencari solusi, berbenturan dengan dia yang lebih memilih diam dan menyendiri.
Puncaknya terjadi di akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Kami kembali terjebak dalam kebisuan selama dua bulan. Di tengah keheningan itu, aku berjuang sendirian mengikuti interview perusahaan dan tes bahasa Jepang. Aku berhasil diterima, sebuah kabar bahagia yang sangat ingin aku bagikan padanya, namun urung kulakukan karena situasi kami yang sedang tidak baik-baik saja.
Februari 2026, sempat ada secercah harapan saat ia mengirim pesan menanyakan status hubungan kami. Kami sepakat untuk mencoba kembali. Namun, harapan itu hancur dalam sekejap karena sebuah kesalahpahaman yang pahit. Ia menuduhku berpaling, padahal kenyataannya ponselku hanya dipinjam oleh teman-teman asrama untuk menghubungi pasangan mereka. Tuduhan itu menjadi percikan terakhir yang meledakkan bom waktu yang selama ini kami simpan. 28 Februari 2026, semuanya benar-benar hancur. Perjalanan hampir empat tahun itu menemui garis akhirnya.
Hingga beberapa hari yang lalu, tepatnya 20 Maret, sebuah pesan darinya kembali muncul di layar ponselku. Pesan yang penuh dengan ungkapan penyesalan dan luka. Aku hanya bisa menjawab dengan sebutan kesayanganku untuknya, "my fav person", seraya meminta maaf atas segala luka yang pernah tercipta.
Sekarang, aku berdiri di ambang perjalanan baru menuju Jepang. Entah aku sudah sepenuhnya move on atau belum, yang pasti aku sudah melepaskannya. Aku akan pergi ke sana untuk memperbaiki diri, menata kembali hidup yang sempat berantakan. Namun, jauh di sudut hati yang paling dalam, aku masih menyimpan tujuan yang sama. Aku akan bekerja keras, membangun aset, dan jika suatu saat nanti aku kembali ke Indonesia dan ia ternyata belum menjadi milik siapa pun, aku akan menepati niatku untuk melamarnya.
Satu hal yang tidak akan pernah berubah: sampai detik ini, dia masih menjadi orang yang sangat berarti dalam kehidupanku. Ke mana pun langkahku membawaku nanti, aku akan selalu menyelipkan doa dan berharap yang terbaik untuk sosok "E"
Sampai saat itu tiba, biarlah cerita ini tersimpan rapi di sini. Sebagai pengingat bahwa kita pernah sedekat nadi sebelum akhirnya sejauh matahari.
Lucky Suryo Wicaksono
Serang, 25 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar